S.P. Tumanggor 25 Juli 2017 Tak adomain authority komentar padomain authority Lee Tai-young: Pembela Keadilan dan Kesejahteraan Wanita

Oleh S.P.. Tumanggor

Pada bulan Maret 2017, dalam rangka Hari Wanita Internasional, 13 tokoh wanita dunia ditampilkan dalam gambar bebas (“doodle”) Google. Seorang dari mereka adalah Lee Tai-young, tokoh kelahiran Pukjin tahun 1914 yang menjadi pengacara wanita pertama, hakyên wanita pertama, dan pendiri lembaga bantuan hukum pertama di Korea.1 Kesalehannya dan kepedulian sosialnya mendorongnya menjadi pembela keadilan dan kesejahteraan wanita Korea.

Bạn đang xem: Lee tai

Lee, yang bersyukur karena ibu dan neneknya mengajari dia “apage authority artinya menjadi wanita Kristen di Korea”,2 melancarkan perjuangan sosial yang mencerminkan kerinduan pemazmur ini: “Sesungguhnya keselamatan daripada-Nya dekat pada orang-orang yang takut akan Dia, sehingga kemuliaan diam di negeri kita. Kasih dan kesetiaan akan bertemu, keadilan dan damai sejahtera akan bercium-ciuman” (Mzm. 85:10-11).

Karena takut/bertakwa kepadomain authority Allah, Lee menemukan pertolongan/keselamarã dari Allah dalam sepak terjangnya di tengah “masyarakat terikat-tradisay đắm di mana konsep kebebasan wanita adalah hal baru dan asing dan di mamãng cầu peran rumah tangga lazim seorang istri adalah melayani ibu mertuanya”.3 Ia mengupayakan kasih berselaras (“bertemu”) dengan kesetiaan, dan keadilan berselaras (“bercium-ciuman”) dengan damai sejahtera di antara kaum pria dan wanita, sehingga kemuliaan hadir di negeri.

Lee tumbuh di negeri Korea awal abad ke-đôi mươi yang mengalamày gesekan antara budaya lama yang mengekang kebebasan wanita dengan budaya baru dari Barat (dibawa oleh penyiar kekristenan) yang memberi kebebasan kepadomain authority wanita.4 Kepedulian sosialnya dilatari oleh gesekan itu—dan oleh Alkitab juga, sebab ia merunut lenyapnya keadilan dan damai sejahtera kepada peristiwa yang disebut “kejatuhan” dalam kekristenan.

“Padomain authority waktu umat manusia diciptakan,” ujar Lee, “pria dan wanita hidup bahagia bersama di Taman Eden. Tapi hubungan itu retak dan benih-benih ketidakselarasan tersebar. Gagasan bahwa pria selalu berhak memiliki kedudukan lebih tinggi sedangkan tugas wanita adalah menempati kedudukan lebih rendah membuat keduanya jadi berlawanan. Karena fungmê say ini kita kehilangan damai kita dan kemajuan masyarakat insani kita terlambatkan”.5

Wawasan itu menunjukkan bagaimana pemahaman alkitabiah berpotenyêu thích untuk memunculkan kepedulian dan perubahan sosial—alih-alih memunculkan keseganan terhadap perjuangan sosial atau pandangan bahwa Alkitab tidak kena-mengemãng cầu dengan hidup sosial. Bagaimanapun, Alkitab mengklaim membawa kabar baik bagi hidup dan dunia manusia.

Karemãng cầu kabar baik itulah Lee mencurahkan hidupnya untuk mengubah hukum yang diskriminatif terhadap wanita. Ia tahu bahwa ini pun panggilan kristiani—bukan melulu “menjangkau jiwa-jiwa terhilang”. Sambil membela keadilan dan kesejahteraan wanita, ia tetap menjadi istri dan ibu yang baik.6 Ia memperagakan seperti apage authority menjadi orang Kristen yang baik di lahan panggilannya.

Perjuangannya jauh dari mudah. Katanya sendiri, “ni agak seperti mengeringkan Sungai Han dengan menimtía air memakai cangkang kerang. Sesewaktu ini tampak nyaris sia-sia. Alasannya adalah karena hukum mendiskriminasi kaum wanita sehingga sedikit saja membantu upaya kamày untuk menolong mereka. Sebab itu saya mulai bekerja dengươi perubahan hukum dan pencabutan beberapage authority hukum”.7

Dan ia berhasil. Dikatakan bahwa “engan merevimê say hukum-hukum nasional, khususnya yang berkairã dengan keluarga dan pernikahan, Lee menolong wanita Korea memperbaiki keadaan mereka dan berdiri bagi hak-hak mereka”.8 Lee membuat keadilan “bercium-ciuman” dengan damai sejahtera di negerinya.

Xem thêm: - Youtube

Jika keselarasan antara keadilan dan damai sejahtera di negeri adalah igiảm giá Alkitab, maka banyak orang Kristen harus mengikuti jejak Lee. Tiada waktu lagi untuk alergi terhadap akyêu thích sosial dan mudah mencapnya sebatua “injil sosial” yang hanya menolong tubuh tapi tidak menolong jiwa (dari neraka). Sebaliknya, tiadomain authority waktu pula untuk mengesampingkan Alkitab sebagai ilmê mệt berwenang bagi kepedulian dan perubahan sosial.

Walaupun telah tutup usia pada tahun 1998 di Seoul, Lee Tai-young terus mengilhamày umat Kristen untuk tahu apa artinya menjadi orang Kristen yang peduli dan berjuang menghadapi permasalahan sosial di negeri. Ketika menerima Anugerah Magsaysay di tahun 1975, ia berkata, “Saya akan berdiri di siyêu thích orang tertindas dan memberi seluruh hidup saya untuk perjuangan ini sebatua balasan atas Anugerah ini”.9

Itulah pembelaan dari kepedulian sosial. Itulah yang membuat kemuliaan diam di negeri.

Xem thêm: Lịch Thi Đấu Australian Open 2021, Lịch Thi Đấu Tennis

S.P. Tumanggor adalah seorang pengalih bahasa dan penulis yang bermukyên ổn di Bandung, Jawa Barat.


Chuyên mục: Tin tổng hợp